Info Serba-Serbi, newsline.id – Keberadaan etnis Tionghoa di Tanah Papua telah terdeteksi ratusan tahun lalu sejak Zaman rempah-rempah. Pelaut dari Jaman Dinasti Tang (618-906) mencatat bertemu dengan orang Papua.
Dalam periode Kaisar Wan-Li (1573–1619), catatan Tiongkok menyebutkan perang antara Portugis dan Belanda yang berusaha merebut pulau-pulau ini, dan pada 1618 terdapat catatan yang menyarankan untuk mendekati Sultan Tidore sebagai penguasa yang paling berpengaruh di wilayah Papua.
Sumber tertulis di atas terdukung dengan ditemukannya jejak kapak neolitik dengan teknik penggurdian yang hanya dikembangkan di Tiongkok (Kebudayaan Yang Shao), tersebarnya perunggu Dongson, manik-manik, gelang kaca, serta keramik di beberapa penjuru Papua yang disinyalir berumur hampir 2000 tahun yang lalu. Masa ini akhirnya dicatat para arkeolog sebagai masa permulaan perdagangan rempah dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perjumpaan etnis Cina dan Papua dalam Perdagangan Kuno menyebabkan terjadinya pertukaran material kebudayaan sejak tahun 1400. Selain mencari rempah sebagai bumbu dapur dan obat-obatan, para pedagang Tiongkok datang ke kepulauan Maluku dan Papua para Pedagang Cina membawa Keramik bermotif Naga dan Ikan Mas Koki dan manik-manik yang kemudian di tukar dengan Burung Cenderawasih, Teripang, Kulit Kayu Masoi, mutiara, kerang, cendana, gaharu, dan lain-lain. Serta memperkenalkan besi, perunggu, pisau, dan kain.
Dalam Perjalanan waktu sebagian benda-benda perdagangan tersebut menjadi peninggalan budaya dan “ritual” dalam prosesi “adat” di Tanah Papua.
Para pedagang etnis Cina ada yang kemudian menetap di pesisir Utara Papua yakni Manokwari, Biak, Serui, Sarmi dan Jayapura, sementara di Selatan Papua yakni Fakfak, Bintuni, Merauke dan di Doom, Sorong.

Orang Tionghoa Papua di Kepulauan Yapen (Serui) akrab dengan istilah “Prancis” yang merupakan akronim dari Peranakan Cina-Serui. Generasi Peranakan Cina-Serui sendiri tak canggung menyebut diri mereka “Ciko”, kependekan dari “Cina Komin” atau Cina Papua. Di wilayah lain seperti pesisir selatan, interaksi antara suku Kamoro dengan pedagang asal Tiongkok sudah terbangun lama, terbukti dari kata Tena yang berarti “asing” merupakan serapan dari kata ‘Tjina’ atau ‘China’.
Di Papua “Cina Papua” tidak membangun sebuah komunitas yang ekslusif, tatapi mereka membaur, menikah dengan masyarakat setempat. Di Abepura, Jayapura meskipun bernama Kamp Cina, namun tak nampak simbol-simbol Cina. Yang tinggal di kawasan ini pun beragam, ada orang Papua, Maluku dan Cina. Kam Cina ada sejak tahun 1950-an di masa pemerintah Belanda.
Saat masa transisi dari Belanda ke Indonesia banyak orang Cina yang mengungsi, para pengusaha memindahkan modalnya ke Singapura, Hongkong dan Eropa. Beberapa diantaranya ada yang ke Australia dan Amerika. (sumber: Fb. Karya Budaya Bangsa, Wikipedia)










