ARTIKEL, newsline.id – “ Diatas Batu ini saya meletakan Peradaban Orang Papua, sekalipun orang memiliki Kepandaian Tinggi, Akal Budi, dan Marinat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit memimpin dirinya sendiri ” Nubuat Pdt. Dominee Izaac Samuel Kijne. 25 Oktober 1925 di Bukit Autimeri Miei Teluk Wondama.
Izaac Samuel Kijne adalah seorang pendidik, misonaris protestan yang kemudian karena jasanya di tanah Papua ia begitu dihormati dan menjadi tokoh penting dalam sejarah peradaban, tokoh pendidik, pewarta Kristen bagi orang Papua.
Domine Izzac Samuel Kijne lahir di Vlaardingen negeri Belanda, dengan Ayah bernama Hugorinus Kijne dan Maria Fige’e. Kijne menamatkan sekolah guru di Klokkenburg Nijmegen dan tamat tahun 1918. Kijne melanjutkan studi mengambil Akta Kepala Sekolah ( Acte Hoofdonderwijzer) selama 2 tahun ( 1918-1920,) dan Kursus Bahasa Melayu (1921) dengan memperoleh Akta Pengetahuan Berbahasa Melayu ( ( Acte Maleis-Lan En Volkenkunde )
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Izaak Samuel Kijne kemudian di kirim oleh Nederlanze Zendingsgenootschaf (NZG) suatu organisasi Misionaris Kristen Protestan di Belanda, pada tahun 1928.
Januari 1923 I.S.Kijne melakukan perjalanan dari Roterdam menuju Mansinam, melalui Guinea Afrika Barat, Batavia(Jakarta), Makassar, Ternate, dan tiba di Manisinam (Manokwari Papua Barat), dengan waktu tempuh selama lima bulan lamanya.
Pada juni 1923 Izaac S. Kijne memulai karirnya sebagai kepala sekolah, guru, dan pendeta di Mansinam
Kijne mengamati bahwa anak-anak Papua yang yang di kirim ke Ambon, Sanghie, dan Tobelo, selalu cepat kembali pulang, karena mereka tidak betah dan kalah pendidikan dengan anak-anak lainnya, sehingga Kijne berkesimpulan bahwa anak-anak papua harus diberikan pendidikan sendiri dan tidak di gabung dengan anak dari daerah lainnya.
Dan atas usul Zendeling D.B.Starrenburg dan D.C.A.Bout yang telah bertugas di Teluk Wondama, Kijne akhirnya menutup sekolah di Mansinam dan membuka sekolah baru di Bukit Aitumeri Teluk Wondama.
Kijne membuka sekolah berpola asrama untuk anak-anak Papua pada 25 Oktober 1925 bersama 35 muridnya, mereka dididik untuk bekerja, mandiri.

Suatu hari dalam tugas mengajar dan melatih paduan suara, Kijne bergumul dan berdoa kepada Tuhan memohon kekuatan untuk melaksanakan karyanya di Tanah Papua, diambilnya sebuah batu dan Kijne kemudian berkata demikian..” Diatas Batu ini, saya meletakkan perdaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi,akal budi dan marifat untuk memimpin bangsa ini, tetapi bangsa ini akan bangkit dan memimpin bangsanya sendiri “.
Sejak tahun 1925-1941, I.S.Kijne telah berhasil meluluskan 780 siswa anak Papua, mereka kemudian menjadi guru dan pelayan dalam jemaat di seluruh Tanah Papua.
Pada tahun 1932, I.S.Kijne mengambil cuti kembali ke kampung halamannya di Vlaardingen dan meminang seorang gadis bernama Johanna Regina Uitenbogaard yang kemudian menemani I.S.Kijne di Bukit Aitumeri dalam pekerjaan pekabaran Injil.
Pada 1942 perang dunia ke 2 pecah, I.S.Kijne dan Mama Jopie ditangkap oleh tentara Jepang di Malang, saat sedang cuti, dan mereka di asingkan secara terpisah di Balige Sumatera Utara, dann dari balik penjara Mama Jopie melahirkan anak pertama Maria Caroline Kijne.
Tiga tahun kemudian di tahun 1945 perang usai.
Januari 1947, I.S.Kijne mengambil cuti kembali ke negeri Belanda sekaligus bertemu dengan Ratu Juliana, pada kesempatan ini, Ratu Juliana menganugerahkan penghargaan sebagai “ Bapak Orang Nieuw Guinea “










