VATIKAN, newsline.id – Sumpah di ucapkan oleh Kardinal Kevin Joseph Farell, Camerlengo Gereja Roma Suci, dan semua indifidu baik pendeta maupun awam yang akan hadir dalm Konklaf tersebut, kelompok ini meliputi Sekretaris Dewan Kardinal, Pemandu Perayaan Liturgi Kepausan, Tujuh Pemandu Upacara Kepausan, Dua Biarawan Agustinianum yang bertugas di Sakristi Kepausan, Staf Biara berbagai bahasa untuk pengakuan dosa, dokter dan perawat medis, operator lift Istana Apostolik, staf Konsumsi, dan kebersihan serta penjual bunga, staf layanan teknis escalator dari casa Santa Marta ke Istana Apostolik, Anggota Garda Swiss, direkturlayanan keamanan dan perlindungan sipil Negara kota Vatikan,
Sumpah tersebut merupakan janji khidmat untuk menjaga kerahasiaan mutlak, terkait kebelangsungan atau tidak langsung proses pemungutan suara dan pengawasan pemilihan Paus, dengan kewajiban abadi sampai ada izin dari paus terpilih dan atau penggantinya.
Konklaf adalah suatu pertemuan Dewan Kardinal tertutup dan rahasia yang diadakan untuk memilih seorang Paus, yang merupakan Uskup Roma sekaligus kepala Gereja Katolik Roma sedunia. Penganut agama Katolik menganggap bahwa Paus merupakan penerus dari Santo Petrus dan pemimpin umat Gereja Katolik di bumi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Arti Sebenarnya dari Sumpah Kardinal
Sebuah Sumpah di Hadapan Raja yang Tersalib Sebelum mereka mengenakan pakaian merah, sebelum mereka memasuki konklaf, sebelum mereka mengambil sumpah kerahasiaan—setiap kardinal mengucapkan sumpah yang jauh lebih besar: sumpah khidmat kepada Kristus Raja dan Gereja-Nya yang Esa, Kudus, Katolik, dan Apostolik.
Ini bukan sekadar ritual. Ini adalah perjanjian yang disegel di hadapan Tuhan, mengikat hati nurani mereka hingga mati.
Kata-kata sumpah kardinalnya jelas: “Saya akan tetap setia kepada Kristus Tuhan dan Injil-Nya, selalu taat kepada Gereja Apostolik Roma yang Kudus… Saya akan melayani Bapa Suci dan para penerusnya yang sah dengan setia dan taat… Saya tidak akan pernah mengungkapkan kepada siapa pun hal-hal yang dipercayakan kepada saya secara rahasia…”
Namun di balik kata-kata ini terdapat kebenaran yang lebih dalam: Seorang kardinal bukanlah seorang politikus. Ia adalah seorang saksi—ditandai dengan warna merah untuk menandakan kesiapannya untuk menumpahkan darah demi Kristus.
Mengkhianati iman, menoleransi ajaran sesat, mendukung dosa dengan kedok belas kasihan—berarti melanggar sumpah ini dan mengejek pakaian merah darah yang mereka kenakan. Menjelang konklaf, pertanyaan utamanya bukanlah “Siapa yang populer?” atau “Siapa yang moderat?”
tetapi ini: Akankah mereka berserah kepada Roh Kudus? Atau akankah mereka tunduk pada ideologi, tekanan, dan perhitungan manusia? Roh menuntun pada kebenaran. Daging membawa pada kehancuran.
Inilah saatnya penghakiman—bukan hanya bagi Gereja, tetapi juga bagi para pangeran yang bersumpah setia di hadapan Tuhan. Semoga mereka mengingat sumpah mereka. Semoga mereka mendengar suara Kristus. Semoga mereka gemetar di bawah tatapan Sang Tersalib. Dan semoga mereka memilih bukan kenyamanan—melainkan Salib.(Redaksi).










