MAYBRAT, newsline.id – Umat Katolik di Stasi Santo Paulus Sun dan Stasi Santo Petrus Seya melaksanakan prosesi Jumat Agung yang unik dengan mengusung tema kelestarian alam. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ritus keagamaan, tetapi juga sebuah aksi nyata kepedulian terhadap lingkungan di Tanah Papua. Jumat (03/04/2026)
Detail Perjalanan
- Rute: Dimulai dari Lingkungan St. Estevanus Nafasi, melewati Lingkungan St. Benediktus Sawo, dan berakhir pada perhentian ke 14 di Bukit Bikok (Bukit Golgota) (Lingkungan Santa Maria Fatimah Sun/Waban).
- Jarak: Menempuh perjalanan sepanjang 1,3 Km.
- Waktu: Dimulai pukul 07.00 WIT hingga puncak ibadah Misa Jumat Agung pada pukul 15.00 WIT.
Pesan Ekologis Romo Markus Malar, OSA
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam khotbahnya, Romo Markus yang juga merupakan seorang Advokat/Pengacara HAM, menekankan beberapa poin krusial terkait kondisi alam Papua saat ini:

- Hubungan Timbal Balik: “Jika kita sayang sama alam, alam juga sayang sama kita.”
- Kritik Eksploitasi: Beliau menyoroti kerusakan ekologi di Papua akibat pembabatan hutan, eksploitasi hasil alam, dan kekerasan terhadap manusia.
- Ancaman Ekspansi Industri: Peringatan bagi umat di wilayah Mare untuk waspada terhadap masuknya perkebunan kelapa sawit yang sudah mencapai wilayah tetangga (Klamono, Sayosa, hingga Kampung Sulia).
- Seruan Aksi: Ajakan tegas untuk menghentikan penebangan pohon (illegal logging) dan menolak kehadiran perusahaan kelapa sawit demi melindungi tanah adat.
Suasana Prosesi
Prosesi Jalan Salib mengenang Sengsara dan Wafat Tuhan Yesus Kristus, dipandu oleh Pro Diakon Agustinus Kinho dan Demianus Yewen, Proses Jalan Salib ini digambarkan berlangsung sangat khidmat. Penulis mencatat bahwa alam sekitar seolah mendukung jalannya ibadah Jalan Salib, ditandai dengan kicauan burung-burung di sepanjang jalur perlintasan yang menyatu dengan alam. (Yonas Yewen, Komsos Paroki Ambrosius Suswa)
Penulis : Yonas Yewen










