BINTUNI, newsline.id – Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy bersama Wakil Bupati Teluk Bintuni Joko Lingara, menghadiri Puncak Perayaan HUT ke-115 Tahun Pekabaran Injil Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKI) di Tanah Sisar Matiti, Teluk Bintuni , di Gereja Via Dolarosa, Kamis (16/10/2025) Petang.
Ibadah di laksanakan sekitar pukul 17.00 WIT, dengan di Pimpin oleh Pdt. Kliong Tomhisa, S.Th (Liturgos) dan Pdt. P. Solissa, S.Th (Pelayan Firman) dan di hadiri Pekerja Klasis Setanah Papua Klasis Teluk Bintuni, Unsur Forkopimda Teluk Bintuni, Pejabat Tinggi Pratama Lingkup Pemda Bintuni, Unsur DPRK Teluk Bintuni, LMA 7 Suku Teluk Bintuni, Pimpinan dari berbagai Denominasi Gereja di Teluk Bintuni, Pendeta, Guru Jemaat, Guru Injil, Calon Pelayan Firman, Penatua, serta semua unsur pelayan Gereja dan perwakilan jemaat mula-mula dari Yakati dan Idor, serta jemaat yang hadir.
Dalam Khotbahnya Pdt. P. Solissa, S.Th menyampaikan bahwa makna penting hari Pekabaran Injil di Teluk Bintuni adalah semua orang yang mendiami Tanah Sisar Matiti, semakin solid dalam persaudaraan dan Persatuan, karena itu singkirkanlah hal-hal yang membuat kita terpisah, semua hal yang membuat kita berselisih, karena berita Injil adalah Berita Damai Sejahtera, Berita Injil adalah Berita Sukacita.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“ 115 tahun injil telah di taburkan di Tanah Sisar Matiti, biarlah Injil Kristus itu menempuh jalannya, dia masuk dalam kedalaman hati kita, mari…kita jangan puas di selamatkan, tapi ingat bahwa kita semua punya tugas membawa kabar baik yang di mulai dari lingkungann terdekat, dari keluarga, dari teman, dari rekan sekerja kita ” Kata Solissa.
Ketua Panitia HUT 115 Pekabaran Injil di Teluk Bintuni (Ikaros Dimara) menyampaikann Rangkaian Kegiatan menyongsong HUT Pekabaran Injil di Teluk Bintuni, telah dimulai sejak tangal 06 Oktober hingga 15 Oktober 2025 yang mulai dengan Seminar Sejarah Gereja bersama Pdt. Hans Wanma, yang kemudian menetapkan tanggal 10 Oktober 1910 menjadi hari dimana Injil masuk ke Tanah Sisar Matiti di Kampung Yakati dan Idor, serta pelaksanaan berbagai perlombaan olahraga dan Kerohanian.
Tema pelaksanaan Kegiatan HUT adalah: Kasih Kristus menggerakan Kemandirian Gereja, mewujudkan Keadilan, Perdamaian, dan Kesejahteraan.

Sekretaris Klasis GKI Teluk Bintuni (Pdt. Johanis Lanta.S.Si) menyampaikan bahwa hari ini adalah momentum yang sangat berharga, bukan sekedar perayaan yang akan di lakukan rutin setiap tahun, tetapi merupakan peringatan iman akan karya besar Tuhan yang telah di mulai lebih dari satu abaad yang lalu.
“ injil Yesus Kristus yang pertama kali diberitakan di Teluk ini, oleh penginjil saat itu, kini telah berbuah hidup dan menjadi terang” Kata Lanta.
Lanta menambahkan kehadiran Injil di Teluk Bintuni berawal dari dua anak Wamesa yang menemui Zendelling Pdt. Jan Van Balen di Windesi (Teluk Wondama – Pusat kegiatan Pekabaran Injil untuk wilayah Selatan dan Barat tanah Papua) untuk meminta guru.
Permintaan tersebut di ikuti dengan memberikan daftar nama, sebanyak 54 orang dewasa, dan 73 orang anak dewasa dan 45 anak yang berusia sekolah, hal ini meyakinkan Zendeling Pdt. Jan Vann Balen dan Zerenburg akhirnya mengantarkan Andreas Defretes yang kemudian tinggal di Yakati dan Piter Lewakabesi yang tinggal di Kampung Idor sebagai menjadi guru injil dan membangun sekolah serta gereja.
Sementara itu Bupati Teluk Bintuni Yohanis Manibuy mengatakan dengan peringatan HUT ke-115 Pekabaran Injil GKI di Teluk Bintuni menjadikan ini sebagai momen yang menyentuh dan membuat sukacita bagi kita semua, dengan memperingati injil masuk di Kabupaten Teluk Bintuni, melalui Yakati dan Idor serta sekitarnya, kita yakin bahwa Terang itu hadir dan memberkati kita semua yang ada di Teluk Bintuni.
“ Selamat memperingati hari Pekabaran Injil ke 115 tahun di Kabupaten Teluk Bintuni, hari ini untuk pertama kalinya kita merayakan HUT Pekabaran injil GKI di Teluk Bintuni, oleh sebab itu harapan saya tahun depan kita bisa lebih meriah lagi” Pungkas Bupati.
Perayaan kemudian di tutup dengan pemotongan Kue HUT 115 Pekabaran Injil di Teluk Bintuni, yang kemudian di bagikan kepada unsur gereja, adat, dan pemerintah, serta ramah tamah santap malam bersama.










