PANIAI PAPUA TENGAH, newsline.id – Papua bukan tanah kosong. Papua adalah tanah yang hidup, kaya akan sumber daya, budaya, dan nilai-nilai luhur warisan leluhur. Sayangnya, yang terlihat dari pusat adalah seolah Papua hanyalah tempat penuh tambang dan peluang investasi. Ini kesalahan besar—bahkan bentuk penghinaan terhadap martabat masyarakat adat.
Saya menulis ini sebagai bentuk kritik keras terhadap praktik kapitalisme yang semakin rakus, dan terhadap elit-elit pusat, termasuk sebagian pihak di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, yang telah membuka jalan bagi monopoli kekayaan alam Papua. Tambang emas, nikel, bahkan kawasan wisata seperti Raja Ampat perlahan-lahan berubah menjadi ladang eksploitasi yang tidak manusiawi.
Korporasi dan investor masuk dengan dalih “pembangunan” dan “pemberdayaan,” tapi faktanya: masyarakat Papua tetap miskin di atas tanahnya sendiri. Hutan kami ditebang, laut kami dirusak, dan anak cucu kami diwarisi alam yang hancur. Ini bukan pembangunan—ini penjajahan gaya baru.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya ingin katakan dengan tegas: Papua adalah surga yang sedang dilukai. Dan siapa yang paling menderita? Kami—orang Papua. Kami tidak anti terhadap kemajuan, tapi kami menolak kemajuan yang dibangun dengan darah, air mata, dan kehancuran ekosistem kami.
Kementerian ESDM dan pemerintah pusat harus membuka mata dan hati. Hentikan izin tambang di atas wilayah adat tanpa persetujuan masyarakat lokal. Evaluasi proyek-proyek pariwisata yang hanya menguntungkan pemodal, bukan rakyat. Libatkan orang Papua dalam setiap kebijakan yang menyangkut tanah dan hidup mereka.
Kami, generasi intelektual Papua, tidak akan tinggal diam. Kami akan terus bersuara—bukan untuk kepentingan pribadi, tapi demi masa depan tanah yang kami cintai.
Papua bukan tanah kosong. Papua adalah rumah kami. Dan rumah ini akan kami pertahankan sampai akhir dengan jelasnya.
(Demianus Yogi,Tokoh Intelektual Kabupaten Paniai).










