JAKARTA, newsline.id – Ikatan Pelajar dan Mahasiswa asal Kabupaten Mimika (IPMAMI) Se Jawa-Bali menuntut Pemerintah Kabupaten Mimika segera Tuntaskan Konflik Kapiraya, Perbaiki Pembangunan, dan Jamin Hak Masyarakat.
Pernyataan Sikap di sampaikan oleh Ketua BPP IPMAMI se Jawa-Bali., Jeni Ogolmagi, bersama BPP IPMAMI se Jadetabek, Detau Onawame, dan beberapa Pelajar Mahasiswa, dalam rilis pers di Asrama Mahasiswa Mimika, Jakarta (Senin, 23/02/2026).
33 Butir Tuntutan diantaranya:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terkait KOnflik dan Keamanan
- Hentikan dan selesaikan tuntas konflik tapal batas Kapiraya (suku Mee, Kamoro, Kei) dengan kerja sama lembaga adat, DPRK, dan MRP; pastikan keamanan masyarakat.
- Usut tuntas pembunuhan, begal, dan perang horizontal Kwamkilama (11 korban jiwa); tangkap seluruh pelaku dan berikan sangsi tegas.
- Polres Mimika segera tangani pembegalan yang merajalela; aparat keamanan harus mengayomi masyarakat dan hindari konflik kepentingan.
- Segera tangani warga pengungsi di Distrik Jila ; klarifikasi kebijakan pengawasan di Tembagapura usai penembakan di Mile 50.
- Kelola dampak konflik Papua secara umum: atur keberadaan aparat, tingkatkan rasa aman di distrik terpencil.

Terkait Perusahaan dan Sumber Daya Alam
- Tutup seluruh perusahaan ilegal di Mimika & tanah Papua; hentikan eksploitasi sepihak yang mengabaikan hak masyarakat. Cabut ijin perusahaan kelapa sawit di Kabupaten
- dampak PT Freeport: atasi kesenjangan ekonomi, konflik hak ulayat, dan tambang ilegal agar masyarakat lokal dapatkan manfaat adil.
- Tangani tambang emas ilegal: hentikan bentrok, kerusakan lingkungan, dan kecemburuan sosial.
- Tolak perusahaan migas di Distrik Agimuga; hentikan sementara perizinan hingga ada kajian transparan yang melibatkan masyarakat.
- Dorong UNESCO turut campur dan buka akses jurnalis/media asing untuk meliput kerusakan ekosistem Papua.
Terkait Masalah Pemerintahan dan Hak Masyarakat
- Bupati Mimika tanggung jawab penuh atas stabilitas daerah; jika poin 1-23 tidak ditindaklanjuti, turunkan Bupati Yohanes Rettop karena kondisi daerah semakin rusak.
- Tegakkan PERDA Mimika secara adil dan konsisten; khususnya PERDA pangan lokal & UMKM bagi suku Amungme, Kamoro, dan 5 suku kerabat.
- DPRD Mimika tingkatkan fungsi pengawasan, legislasi, dan kontrol pemerintahan secara profesional.
- DPRK Mimika jadikan jembatan pemerintah-daerah adat untuk solusi
- Jangan klaim tanah atau memerkarkan kecamatan/desa tanpa syarat; harus melibatkan lembaga adat, tokoh masyarakat, dan pemuda.
- Buka ruang demokrasi untuk penyampaian aspirasi
- Evaluasi menyeluruh dan bubarkan komunitas/organisasi tidak transparan & tidak bermanfaat bagi masyarakat amungme-kamoro dan 5 suku kerabat
- Tolak dukungan pemerintah daerah terhadap organisasi luar yang mengganggu stabilitas lokal.
- Batasi imigrasi dari luar
Terkait Masalah Pembangunan dan Kemasyarakatan.
- Prioritaskan pembangunan dan potensi daerah sendiri sebelum kerja sama wisata luar daerah; lakukan pembangunan secara merata di Mimika.
- Utamakan anak asli daerah (Amungme, Kamoro, 5 suku kerabat) dalam jabatan BUMD dan penerimaan CPNS.
- Segera ciptakan lapangan kerja khususnya bagi masyarakat
- Buat program pemberian sertifikat tanah bagi masyarakat yang belum
- osialisasikan kesehatan khususnya HIV/AIDS dan penyalahgunaan obat terlarang; Dinas Kesehatan tangani kasus HIV secara serius.
- Atasi masalah sosial perkotaan: kendalikan urbanisasi, kurangi kesenjangan sosial, dan tangani miras serta pengangguran pemuda.
- Fasilitasi penerbangan subsidi di pedalaman Mimika
Terkait Masalah Pendidikan
- Dinas Pendidikan harus teransparan dalam penerimaan peserta calon beasiswa Afirmasi
- Berikan beayasiswa afirmasi untuk studi luar
- Fasilitasi sekolah-sekolah di pedalaman Kabupaten
- kampus negeri berstandar internasional di
- Fasilitasi dukungan bagi mahasiswa/perantau Mimika agar dapat berkontribusi membangun daerah.
- Dinas pendidikan harus teransparan dalam memberikan Bantuan study kepada Mahahasiswa Mimika yang menempu pendidikan di Se-Indonesia.
“ jika ini tidak dindahkan maka turunkan Bupati Yohanis Rettob.” Kata Perwakilan Mahasiswa yang enggan disebutkan namanya. (*)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi Papua










