BINTUNI, newsline.id — Hadir di tengah masyarakatnya, Yohanis Manibuy dikenal sebagai Sosok Pimpinan yang dekat dengan rakyatnya, murah senyum, ramah, mudah bergaul dengan semua kalangan, dan Kerja Nyata dalam pengabdiannya sebagai kepala daerah Kabupaten Teluk Bintuni.
Dinamika kepemimpinan di kabupaten penghasil minyak bumi dan gas, serta latar belakang tujuh suku, adat, budaya, dan agama, menjadikan Anisto, sapaan akrab sang bupati, sebagai putera pribumi, pemimpin terbaik negeri Teluk Bintuni.
Sejak dilantik oleh presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto di Istana Negara pada 20 Februari 2025, sebagai Bupati Kabupaten Teluk Bintuni, masa jabatan 2025–2030. Bersama wakil Bupati Joko Lingara. Sejumlah agenda pemerintahan dan kebijakan daerah mulai dijalankan, mulai dari penataan kepegawaian, perjuangan hak daerah penghasil migas, hingga pembinaan generasi muda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari Kekalahan Politik Menuju Kepercayaan Rakyat
Perjalanan politik Yohanis Manibuy bukanlah jalan yang selalu mulus.
Pada Pilkada 2015, ia pernah maju sebagai calon Wakil Bupati berpasangan dengan Daniel Asmorom. Dalam kontestasi tersebut, pasangan ini dikabarkan kalah dengan selisih hanya tujuh suara. Pada Pilkada 2020, ia kembali mengikuti kontestasi politik, tetapi belum berhasil memperoleh kepercayaan mayoritas pemilih.
Namun, dua pengalaman tersebut tidak menghentikan langkah politiknya. Ia terus berproses hingga kembali maju dalam Pilkada 2024 bersama Joko Lingara.
Kali ini, hasilnya berbeda. Berdasarkan penetapan KPU Kabupaten Teluk Bintuni, pasangan Yohanis Manibuy–Joko Lingara memperoleh 21.068 suara atau 51,81 persen dari total suara sah. Kemenangan tersebut mengantarkan keduanya memimpin Kabupaten Teluk Bintuni untuk periode 2025–2030.
Perjalanan panjang itu menjadi bagian penting dari rekam jejak politik Anisto. Sepuluh tahun berproses dalam dinamika politik daerah memberikan pengalaman tersendiri dalam membangun hubungan dengan masyarakat.
Di mata sebagian warga, kedekatan tersebut terlihat dalam interaksi sehari-hari.
“Anisto itu ramah, dermawan, dan tidak pernah jaga jarak. Ketemu di pasar, di gereja, di acara adat, selalu senyum dan sapa duluan,” ujar seorang warga Bintuni.

Tiga Agenda Kerja yang Menjadi Perhatian
- Penataan Kepegawaian dan Pengangkatan PPPK
Persoalan tenaga honorer menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah daerah. Kepastian status dan masa depan ribuan tenaga honorer merupakan isu yang telah lama menjadi perhatian masyarakat.
Pada April 2026, sebanyak 1.054 tenaga honorer di lingkungan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menerima Surat Keputusan (SK) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.
Kebijakan pengangkatan PPPK Paruh Waktu tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah daerah dalam memberikan kepastian status kepegawaian bagi tenaga honorer, sekaligus bagian dari proses penataan birokrasi.
- Memperjuangkan Hak Teluk Bintuni sebagai Daerah Penghasil Migas
Sebagai daerah yang memiliki Proyek Tangguh LNG, Teluk Bintuni memiliki posisi strategis dalam industri gas nasional. Namun, besarnya aktivitas industri migas belum sepenuhnya menjawab harapan masyarakat terhadap peningkatan kesejahteraan dan percepatan pembangunan daerah.
Dalam forum bersama Komisi XII DPR RI dan Gubernur Papua Barat, Bupati Yohanis Manibuy menyuarakan perlunya evaluasi terhadap kebijakan pembagian DBH Migas.
Ia meminta agar Perdasus Papua Barat Nomor 22 Tahun 2022 tentang pembagian DBH Migas ditinjau kembali karena dinilai belum memberikan proporsi yang adil bagi Teluk Bintuni sebagai daerah penghasil.
Bagi pemerintah daerah, persoalan tersebut bukan semata-mata tentang besaran penerimaan keuangan, tetapi juga menyangkut hak daerah dan masyarakat yang hidup berdampingan dengan aktivitas industri migas.
Perjuangan ini menjadi salah satu agenda penting yang hasilnya masih perlu dikawal bersama pemerintah pusat dan pemerintah provinsi.
- Generasi Muda sebagai Investasi Masa Depan Bintuni
Di luar persoalan infrastruktur dan tata kelola pemerintahan, pembangunan sumber daya manusia juga menjadi bagian dari perhatian Bupati Yohanis Manibuy.
Hal itu terlihat ketika ia membuka kegiatan Phapeda Youth Camp yang diikuti 115 pelajar dan pemuda dari berbagai sekolah, perguruan tinggi, gereja, serta komunitas seni di Teluk Bintuni.
Dalam rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Anisto menyampaikan pesan tentang pentingnya membangun karakter generasi muda yang memiliki keberanian bermimpi, tekun bekerja, patriotik, gigih, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Baginya, pembangunan daerah tidak hanya diukur dari keberadaan jalan, gedung, dan berbagai fasilitas publik. Kualitas sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dalam menentukan masa depan Teluk Bintuni.
Karena itu, ruang pembinaan, pendidikan karakter, dan keterlibatan pemuda dalam pembangunan perlu terus diperkuat.
Kepemimpinan yang Dinilai dari Kedekatan dan Hasil Kerja
Perjalanan Yohanis Manibuy memperlihatkan dinamika seorang tokoh daerah yang pernah mengalami kekalahan politik sebelum akhirnya memperoleh kepercayaan rakyat.
Kini, sebagai Bupati Teluk Bintuni, ia menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Persoalan pemerataan pembangunan, peningkatan pendapatan asli daerah, kesejahteraan masyarakat, pelayanan publik, serta pengelolaan potensi sumber daya alam masih menjadi pekerjaan penting pemerintahannya.
Keramahan dan kedekatan dengan masyarakat merupakan modal sosial dalam kepemimpinan. Namun, pada akhirnya, keberhasilan pemerintahan juga akan diukur melalui hasil pembangunan, kualitas pelayanan publik, transparansi, dan manfaat kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Bagi Anisto, perjalanan politik yang panjang telah membawanya sampai pada posisi saat ini. Sementara bagi masyarakat Teluk Bintuni, harapan terhadap kepemimpinannya tetap bertumpu pada satu hal: bagaimana kepercayaan yang diberikan melalui Pilkada dapat diwujudkan menjadi perubahan nyata bagi daerah dan seluruh masyarakatnya. (di sadur kembali oleh :redaktur, Sumber: Fideles Wiran-Sorot Papua)










