Ibadah Etnik Suku Wamesa, Ayub: Identitas Harga Diri Harus Dipertahankan

Monday, 26 October 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BINTUNI, newsline.id – Ibadah Etnik Suku Wamesa yang digelar di Gereja GKI Via Dolorosa Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, berlangsung khidmat dan meriah. Nuansa budaya Suku Wamesa mewarnai jalannya ibadah hari minggu, menghadirkan kekayaan tradisi leluhur yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Papua. Minggu, (25/10/2026)

Tabuhan tifa dan tiupan seruling mengiringi prosesi pengantaran pelayan firman dari rumah pastori menuju gereja. Setibanya di depan pintu gereja, rombongan disambut para gadis yang mengenakan pakaian adat khas Suku Wamesa, dengan gerakan tarian yang anggun dan penuh makna.

Suasana semakin semarak ketika replika perahu bertuliskan Wamesa digunakan dalam prosesi mengantar pelayan firman dan hamba Tuhan memasuki gereja. Iringan gitar dan lantunan lagu berbahasa Wamesa mengiringi perahu tersebut hingga tiba di depan mimbar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemandangan itu menjadi gambaran bagaimana tradisi leluhur dapat dihadirkan dalam kehidupan bergereja. Ibadah berlangsung dengan penuh penghayatan, diikuti jemaat yang datang membawa iman, doa, dan harapan kepada Tuhan.

Ketua Majelis Jemaat GKI Via Dolorosa Bintuni, Pendeta Imelda Manggulu, dalam pesan firman dan penguatannya mengingatkan jemaat agar tetap teguh dalam iman, mejadi saksi Tuhan terutama di tengah berbagai tantangan kehidupan saat ini.

Menurutnya, kondisi kehidupan yang semakin sulit, kebijakan efisiensi anggaran negara, serta berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Namun, kepercayaan kepada Tuhan sebagai sumber segala sesuatu dalam kehidupan harus tetap dipelihara.

“Mari kita pandang ke depan. Allah tetap memilih saya, Bapak, Ibu, Saudara, dan anak-anak. Allah tetap mengasihi kita,” ujar Pendeta Imelda.

Ia mengajak jemaat untuk tidak kehilangan pengharapan, melainkan terus mengandalkan Tuhan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Foto: Anak-anak Suku Wamesa dalam Ibadah Etnik Suku Wamesa Gereja GKI Via Dolorosa Bintuni, Minggu, (25/10/2026)

Ayub Yomaki: Budaya Wamesa Adalah Harga Diri

Sementara itu, tokoh adat Suku Wamesa, Ayub Yomaki, yang juga merupakan pelayan firman di Gereja GKI Via Dolorosa Bintuni, menegaskan bahwa Ibadah Etnik Suku Wamesa merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya yang perlu terus dikembangkan.

Menurut Ayub, nilai-nilai budaya Suku Wamesa dirasakan semakin memudar di tengah perkembangan zaman dan kehidupan modern, khususnya di kalangan generasi muda. Karena itu, ia mengapresiasi pihak gereja yang telah mencanangkan kegiatan ibadah etnik sebagai salah satu upaya menghidupkan kembali identitas budaya orang Papua.

“Ini merupakan kegiatan yang baik dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami sebagai orang Wamesa. Kepada generasi muda, saya berpesan agar budaya ini tetap dilestarikan karena merupakan identitas dan harga diri kita,” tegas Ayub.

Ia menambahkan, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan semua pihak agar nilai-nilai warisan leluhur tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Dalam hal ini, sinergi tiga tungku, yakni adat, gereja, dan pemerintah, dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan budaya sekaligus memperkuat kehidupan masyarakat.

Ayub juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga Suku Wamesa serta masyarakat dari suku-suku lain yang turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, termasuk mereka yang memiliki ikatan keluarga melalui perkawinan.

Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat menjadi ruang kebersamaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap identitas masing-masing.

Melalui Ibadah Etnik Suku Wamesa, nilai-nilai iman dan budaya diharapkan dapat terus berjalan beriringan. Tradisi leluhur bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas dan harga diri yang perlu dijaga serta diteruskan kepada generasi mendatang.

 

Berita Terkait

Dekat Dengan Rakyat, Murah Senyum, dan Jejak Kerja Nyata: Sosok Yohanis Manibuy, Bupati Teluk Bintuni
84 Ribu Warga Bintuni Tercakup JKN-KIS dan JAMKESDA, Tak Ada Alasan Menolak Pasien
Upaya Pemulangan Pengungsi Moskona Utara dan Moskona Utara Jauh, Bupati Tinjau Lokasi dan Kesiapan.
Wakil Bupati; Joko Lingara, Buka Sosialisasi Tertib Administrasi Keuangan Daerah Teluk Bintuni 2026.
Workshop Kurasi dan Penyuntingan Sastra Lisan Cerita Rakyat 7 Suku, Libatkan 14 Penulis Lokal Teluk Bintuni.
Pulangkan Pengungsi, Tarik TNI dari Moskona Utara, ‘Secepatnya’
Skrining Malaria: Kawal Kesehatan Kontingen Sukseskan Pesparani Katolik IV Provinsi Papua Barat.
AKBP Hari Sutanto Pamit dari Teluk Bintuni, Bupati: Rasanya Masih Kurang.
Berita ini 48 kali dibaca

Berita Terkait

Monday, 2 November 2026 - 09:11

Dekat Dengan Rakyat, Murah Senyum, dan Jejak Kerja Nyata: Sosok Yohanis Manibuy, Bupati Teluk Bintuni

Monday, 26 October 2026 - 10:45

Ibadah Etnik Suku Wamesa, Ayub: Identitas Harga Diri Harus Dipertahankan

Wednesday, 21 October 2026 - 13:00

84 Ribu Warga Bintuni Tercakup JKN-KIS dan JAMKESDA, Tak Ada Alasan Menolak Pasien

Friday, 9 October 2026 - 07:52

Upaya Pemulangan Pengungsi Moskona Utara dan Moskona Utara Jauh, Bupati Tinjau Lokasi dan Kesiapan.

Thursday, 1 October 2026 - 01:13

Wakil Bupati; Joko Lingara, Buka Sosialisasi Tertib Administrasi Keuangan Daerah Teluk Bintuni 2026.

Berita Terbaru

Papua Barat

Bina Karakter Pemuda Bintuni, Yayasan Phapeda Gelar Youth Camp

Tuesday, 27 Oct 2026 - 13:27