BINTUNI, newsline.id – Ibadah Etnik Suku Wamesa yang digelar di Gereja GKI Via Dolorosa Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, berlangsung khidmat dan meriah. Nuansa budaya Suku Wamesa mewarnai jalannya ibadah hari minggu, menghadirkan kekayaan tradisi leluhur yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Papua. Minggu, (25/10/2026)
Tabuhan tifa dan tiupan seruling mengiringi prosesi pengantaran pelayan firman dari rumah pastori menuju gereja. Setibanya di depan pintu gereja, rombongan disambut para gadis yang mengenakan pakaian adat khas Suku Wamesa, dengan gerakan tarian yang anggun dan penuh makna.
Suasana semakin semarak ketika replika perahu bertuliskan Wamesa digunakan dalam prosesi mengantar pelayan firman dan hamba Tuhan memasuki gereja. Iringan gitar dan lantunan lagu berbahasa Wamesa mengiringi perahu tersebut hingga tiba di depan mimbar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemandangan itu menjadi gambaran bagaimana tradisi leluhur dapat dihadirkan dalam kehidupan bergereja. Ibadah berlangsung dengan penuh penghayatan, diikuti jemaat yang datang membawa iman, doa, dan harapan kepada Tuhan.
Ketua Majelis Jemaat GKI Via Dolorosa Bintuni, Pendeta Imelda Manggulu, dalam pesan firman dan penguatannya mengingatkan jemaat agar tetap teguh dalam iman, mejadi saksi Tuhan terutama di tengah berbagai tantangan kehidupan saat ini.
Menurutnya, kondisi kehidupan yang semakin sulit, kebijakan efisiensi anggaran negara, serta berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Namun, kepercayaan kepada Tuhan sebagai sumber segala sesuatu dalam kehidupan harus tetap dipelihara.
“Mari kita pandang ke depan. Allah tetap memilih saya, Bapak, Ibu, Saudara, dan anak-anak. Allah tetap mengasihi kita,” ujar Pendeta Imelda.
Ia mengajak jemaat untuk tidak kehilangan pengharapan, melainkan terus mengandalkan Tuhan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Ayub Yomaki: Budaya Wamesa Adalah Harga Diri
Sementara itu, tokoh adat Suku Wamesa, Ayub Yomaki, yang juga merupakan pelayan firman di Gereja GKI Via Dolorosa Bintuni, menegaskan bahwa Ibadah Etnik Suku Wamesa merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya yang perlu terus dikembangkan.
Menurut Ayub, nilai-nilai budaya Suku Wamesa dirasakan semakin memudar di tengah perkembangan zaman dan kehidupan modern, khususnya di kalangan generasi muda. Karena itu, ia mengapresiasi pihak gereja yang telah mencanangkan kegiatan ibadah etnik sebagai salah satu upaya menghidupkan kembali identitas budaya orang Papua.
“Ini merupakan kegiatan yang baik dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami sebagai orang Wamesa. Kepada generasi muda, saya berpesan agar budaya ini tetap dilestarikan karena merupakan identitas dan harga diri kita,” tegas Ayub.
Ia menambahkan, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan semua pihak agar nilai-nilai warisan leluhur tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Dalam hal ini, sinergi tiga tungku, yakni adat, gereja, dan pemerintah, dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan budaya sekaligus memperkuat kehidupan masyarakat.
Ayub juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga Suku Wamesa serta masyarakat dari suku-suku lain yang turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, termasuk mereka yang memiliki ikatan keluarga melalui perkawinan.
Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat menjadi ruang kebersamaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap identitas masing-masing.
Melalui Ibadah Etnik Suku Wamesa, nilai-nilai iman dan budaya diharapkan dapat terus berjalan beriringan. Tradisi leluhur bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas dan harga diri yang perlu dijaga serta diteruskan kepada generasi mendatang.










